Cara menjadi pembicara yang baik

Di bawah ini ada 10 ‘tatakrama” untuk menolong Anda lebih menarik dalam berbicara:

1. Singkat.
Bicaralah ‘to the point’. Kuasai permasalahan, kapan berhenti dan apa yang tidak perlu dibicarakan. Bertele-tele merupakan kebiasaan berbicara yang paling jelek. Untuk mengatasinya, langsunglah pada pokok pembicaraan dan tetap pada pokok tersebut. Berbicara nyerocos tak henti-henti, akan mengundang kebosanan dari pihak pendengar (Bukan hanya kebosanan yang diundang tapi juga kemarahan untuk membuatnya diam).
2. Hindarkan penyakit “aku-diriku”.
Menonjol-nonjolkan diri-sendiri akan mengundang anti-pati dari pihak pendengar (Nah tuh sekarang yang diundang anti-pati, makanya jangan sombong yah…)

3. Libatkan orang lain secara aktif dalam pembicaraan itu.
Tekniknya sangat sederhana: Ajukan pertanyaan-pertanyaan, sehingga pembicaraan akan semakin berkembang dan menarik. (Makanya biar berkembang pake teknik pertanyaan)

4. Jangan biarkan pendengar merasa tidak termasuk dalam pembicaraan itu.
Tentu Anda tidak ingin dianggap sepi, maka jangan menganggap sepi orang lain. Sebaliknya, ikutkanlah semua orang. Mata Anda perlu berkomunikasi sementara Anda sedang bicara. (Ternyata bukan mulut aja yang bisa berkomunikasi… Mata juga bisa, dari yang ku tau memang semua anggota tubuh itu bisa berkomunikasi loh… Kok bisa??? Tanya aja deh sama om google)

5. Hati-hati untuk tidak melukai perasaan orang lain.
Sikap yang baik bukan datang dari sikap pura-pura atau munafik, tetapi dari sikap simpati. Yakni, turut merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain. Caranya, tempatkan diri Anda ke dalam diri orang lain. Hati-hati, bahwa suatu topik tertentu mungkin akan mengundang dampak negatif. Topik-topik seperti politik, agama, kesukuan, kelompok mungkin cocok untuk sepihak namun tidak untuk pihak lain. Hindarkan pembicaraan yang menyerang pribadi seseorang. (Iya tuh saya setuju banget, apalagi yang terakhir… ga boleh menyerang pribadi orang, nanti dipenjara loh.)

6. Hindarkan gosip tentang orang lain.
Membicarakan seseorang di belakangnya, suatu tindakan yang tidak ‘fair’ terhadap yang bersangkutan. Menjelek-jelekkan karakter atau reputasi seseorang merupakan tindakan yang tidak terpuji. Ingat ‘peraturan emas’: “Jangan lakukan terhadap orang lain, apa yang tidak Anda inginkan orang lain lakukan terhadap Anda.” (Yup itu sudah menjadi sifat aku loh…

7. Diskusikan jangan berdebat.
Berdebat secara emosi merupakan musuh dari pembicaraan yang enak (hmmmm…. nyam-nyam-nyam…. kata si iblis^^). Orang-orang bijak mengatakan bahwa orang yang pertama berteriak, telah kehilangan argumentasinya. Meskipun menurut orang yang marah tersebut pendapatnya benar, namun sifat menyerangnya akan membuatnya kehilangan argumen sekaligus kehilangan respek dari pihak lain. (Makanya biar ga banyak yang hilang harus bisa sabar, ikhlas dan menahan emosi dengan mengendalikan diri, yalah malah jadi kayak AA Gym yah???).

8. Perhatikan reaksi pendengar terhadap apa yang sedang Anda bicarakan.
Bagaikan seorang pengemudi, pembicara harus memperhatikan tanda-tanda lalu-lintas. Kapan berhenti dan kapan Anda boleh meneruskannya. Tanda-tanda kebosanan dari pendengar merupakan ‘lampu merah’ bagi Anda, Anda harus berhenti secepatnya. Sebaliknya rasa tertarik dan perhatian mereka, merupakan ‘lampu hijau’ Anda boleh terus, lanjutkan! (Lho kok jadi kayak iklan capres.) Jika orang tertarik kepada pembicaraan Anda, mereka akan memberi tanda terus, dengan meminta Anda melanjutkannya. (Berarti kalo si Capres – lanjutkan! – pro rakyat – lebih cepat lebih baik; menang, rakyat pada tertarik sama dia yah… hehehe… :) .. ).

9. Dengar
Minatilah apa yang dibicarakan orang. Mendengar sama pentingnya dengan berbicara. Jika pembicaraan tidak begitu menarik, pikirkan sesuatu yang lain. Jika benak Anda sering menyimpang lari dari pembicaraan, Anda perlu merubah kebiasaan mendengar Anda. Jangan lupa, bahwa pendengar yang tidak baik juga merupakan pembicara yang tidak baik. (Iya saya akan ingat Bapak/Ibu Guru.)

10. Jangan menyela orang yang sedang berbicara.
Beri kebebasan orang lain berbicara. Mengajukan pertanyaan yang tidak relevan, membuat komentar yang tidak berhubungan, menghentikan kalimat-kalimat orang lain atau menolongnya untuk lebih memperlancar bicaranya, dapat membuatnya jengkel. Interupsi, hanya perlu jika pembicaraan bertele-tele, pembicaraan yang membuat orang mengantuk atau membicarakan topik menyerang pribadi seseorang. (Berikan kesempatan orang lain berekspresi yah-Xpresikan dirimu-biar aku yang mendengar)
Singkatnya untuk menjadi pembicara yang baik memerlukan keahlian yang besar. Juga memerlukan seni tersendiri yang perlu dipelajari. Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda tidak hanya meningkatkan kebiasaan berbicara Anda tetapi juga akan disenangi orang lain. Mereka akan tertarik kepada Anda dimanapun Anda berada. (Jadi biar orang-orang mau dkt dgn Anda apalagi lawan jenis Anda itu cewe… ga perlu pake parfum ‘kapak’-bisa diterjemahkan ke dlm bhs inggris).
Suatu saat… Anda bahkan bisa menjadi seorang ‘master‘ dari seni berbicara

Any question or comment from your side.?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s